Emansipasi Sesungguhnya…

February 24, 2008 at 12:46 pm ("nyastra")

Kartini, dengan Habis Gelap Terbitlah Terang-nya telah cukup berhasil menggaungkan emansipasi di era modern ini. Kini, tidak sedikit perempuan berlomba-lomba meneriakkan kesetaraannya pada jenis kelamin yang lain. Menuntut pendidikan setara, menuntut pekerjaan setara, menuntut hak yang sama dengan laki-laki, bersaing menjadi pemimpin, berebut kursi, berebut posisi. Bahkan terkadang tampak tidak lagi hanya menuntut hak tapi juga menuntut untuk melakukan kewajiban laki-laki. Yah, kini perempuan menuntut segala hal yang dilakukan laki-laki..

Hey lihat kami wahai manusia dengan jenis kelamin beda, lihat kami kini sama denganmu, lihat kami tidak lagi diinjak-injak olehmu, lihat saat ini kami bisa berada di atasmu, jauh, jauh di atasmu, dan keagungan pun didapat!!!

Lihat kami!! wahai manusia dengan jenis kelamin beda!! kini suara kami didengar, kini kami tidak lagi terkurung dalam sangkar, kini kami dapat melakukan apapun yang kau lakukan, kami tidak lagi diperintah tapi kini kami yang memerintah, memerintahmu!! Dan kemenangan pun didapat!!!

Yah seperti itulah perempuan masa kini. Merasa bangga, agung dan menang jika bisa berdiri sendiri, bisa menjadi pemimpin. Yang saya sesalkan, kini perempuan mulai lupa akan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu. Perempuan kini memilih menunda untuk menikah demi mengejar karir, ada juga perempuan yang memilih tidak menikah karena terlalu asik dengan posisi penting yang telah didapatnya, perempuan memilih tidak memiliki anak karena takut karir yang telah dirintisnya terganggu, bahkan kini perempuan memilih untuk menelantarkan anaknya hanya untuk menghadiri rapat bersama klien terhormat.

Wahai Ibu kita Kartini, lihatlah..apa yang kau usung telah membuahkan hasil yang luar biasa, keluarga yang tidak harmonis karena ketiadaan sentuhan lembut seorang perempuan didalamnya, suami-suami yang berselingkuh karena tidak pernah diberi perhatian oleh istrinya, anak-anak bermasalah karena kekurangan kasih sayang, anak-anak yang menderita akibat diterlantarkan oleh ibunya, lihatlah Ibu..emansipasimu begitu hebat..

Sampai suatu ketika, saya menggenggamnya, tulisanmu, Habis Gelap Terbitlah Terang. Penuh keengganan saya buka perlahan-lahan, penuh kebencian saya membaca karyamu halaman demi halaman, perlahan..per halaman. Lalu, saya menangis, air mata saya bercucuran, kebencian pun hilang..maafkan saya Ibu..

Saya terlalu gegabah untuk membencimu, saya terlalu gegabah untuk menyalahkan semuanya padamu, maafkan saya Ibu..

Ya, saya dapat mengerti betapa menderitanya Ibu, bak burung dalam sangkar yang kemudian dikeluarkan untuk belajar terbang, lalu setelah tau caranya terbang burung itu dimasukkan kembali ke dalam sangkarnya. Engkau terkurung setelah engkau bebas Ibu..ya saya dapat memahaminya..Ibu ingin terbang ke angkasa bukan? Ibu ingin menggapai awan, ingin bergerak bebas mengepakkan sayap, Ibu ingin merasakan terpaan angin yang mengena pada wajah Ibu saat Ibu terbang? Ibu ingin merasakan luncuran bebas di antara langit dan bumi tanpa ada halangan? Itukah yang Ibu rasakan? Yah, saya dapat juga merasakannya.

Saya pun mengerti, betapa Ibu sakit hati pada laki-laki karena dengan semena-menanya dapat membawa istri baru tanpa izin dari istri pertama, betapa bencinya Ibu pada laki-laki karena tidak mau menceraikan istri pertama meskipun istri pertama itu telah memohon dengan sujud, betapa dendamnya ibu pada laki-laki karena perempuan hanya dijadikan pemenuh nafsu birahi, dijajah, hina.. betapa geram Ibu, melihat perempuan kala itu hanya dapat diam, menunduk tidak melawan, diam, terpaku dan pasrah menerima ketidakadilan itu.. ya, saya memahaminya Ibu..

Lalu Ibu ingin merubah itu semua, Ibu ingin perempuan bisa pintar, mendapat pendidikan, dapat bersuara, tidak dilecehkan, dihargai. Ibu ingin perempuan itu cerdas, agar setiap Ibu dapat mengajari anaknya untuk berbudi pekerti, agar dapat mengajari anaknya kesopanan dan kesantunan, cerdas agar dapat mendidik anaknya merasa, berkata dan berpikir dengan baik, tidak seperti laki-laki di zaman itu, tidak seperti para penjajah di zaman itu.

Ibu ingin cerdas agar dapat mengurus anak, mengajarinya juga mendidiknya, menjadikan mereka anak yang cerdas pikir dan cerdas budi. Yah, Ibu menuntut emansipasi dengan tujuan mulia itu..

Ibu menuntut posisi terhormat, yakni sebagai penolong berharga bagi laki-laki, penolong laki-laki dalam misi memajukan peradaban, menolong laki-laki dengan cara menjadi cerdas dan membentuk generasi cerdas..itulah yang kau teriakan Ibu..

Ibu, apakah Ibu akan menangis seperti saya yang menangis ketika melihat perempuan masa kini yang justru melupakan posisi terhormat itu? Apakah Ibu akan meringis seperti saya yang meringis melihat perempuan yang kini menganggap status dan peran sebagai seorang ibu juga sebagai seorang istri sebagai sesuatu yang rendah?? Ibu, apa yang dapat saya lakukan??

Hmmh..ya Allah sadarkanlah perempuan-perempuan itu, saya tidak mampu berbuat apapun selain berusaha dan memohon doa padaMu untuk dapat mewujudkan mimpi Ibu, mimpi terhormat, yang telah Engkau gariskan untuk kami hambaMu perempuan..

Post a Comment