Saya suka cara mainnya..

April 5, 2008 at 1:47 pm (pelajaran hari ini)

Kemarin, sepulang dari kampus (akhirnya utsnya selesai juga), di dalam angkot 03, di depan stasiun bogor, di tengah sore yang agk panas(sore2 koq panas yah..), saya melihat ada mbak2 berjilbab panjang yang menghampiri supir angkot 03 yang saya tumpangi itu. menurut Anda, apa yang mbak2 itu lakukan? saya agak sedikit kaget saat melihat mbak2 tadi menghampiri supir angkot tersebut dengan tujuan meminta izin. meminta izin untuk apa? ada yang bisa menebak? Mbak2 tadi, meminta izin pada pak supir yang sedang bekerja untuk menempelkan stricker salah satu kandidat calon gubernur dan wakil gubernur jabar. pak supir pun memberikan izinnya dengan begitu ramah, lalu mbak tadi pun mengucapkan terima kasih dan menempelkan sticker yang ia bawa.

menarik, anda tau mengapa saya menggap hal tersebut menarik? Karena, selama ini, selama saya hidup (lebay), saya baru pertama kali melihat orang yang menempelkan sticker di angkot dengan meminta izin terlebih dahulu. Biasanya, langsung tempel2 aja semaunya, ga permisi tanpa basi-basi yang penting stickernya tertempel. brosur juga, tidak pernah saya melihat orang yang menyebarkan brosur di angkot dengan mengucapkan permisi terlebih dahulu, biasanya dilempar begitu saja, seperti membuang sampah saja. balik lagi ke mbak2 tadi, pantas saja sticker2 cagub dan cawagub dengan nomor sekian tersebut selalu tertempel rapi di angkot (tidak miring2 seperti sticker dari 2 koalisi partai yang lainnya), mungkin seperti itulah cara mereka menempelkan atribut kampanyenya.

setelah menempelkan stickernya, mbak tadi mengucapkan terima kasih, lalu ia pergi ke angkot lain, menghampiri supirnya dan kembali meminta izin, begitu seterusnya (wah semangat yah mbak!!!). Terlintas kemudian di pikiran saya, walah jika perilaku sepele saja mereka memberikan cara terbaik, mungkin untuk hal-hal lainnya yang lebih besar juga seperti itu. saya sendiri sangat senang melihat perilaku tadi, mencerminkan cara berkampanye yang sehat, menunjukkan tata kramanya, dalam hal kecil sekalipun, baguslah, smangat!!!! hahaha, saya jd semakin yakin akan memilih pasangan kandidat nomor sekian itu.

Permalink Leave a Comment

serba mudah..

April 5, 2008 at 1:15 pm ("artikel") ()

Mengasyikan hidup di zaman sekarang. Semua serba mudah, untuk memenuhi kebutuhan hidup, kita tak perlu repot menyiapkannya sendiri. Semua sudah tersedia di luar sana, tinggal kita siap merogoh kantong, maka semuanya pun terpenuhi. Dengan membelinya saja, dengan mengeluarkan uang saja, segala kebutuhan kita dari ujung rambut sampai ujung kaki dapat kita penuhi, menyenangkan bukan? Coba kita bayangkan, dulu untuk memasak saja, orang harus mengumpulkan kayu bakar terlebih dahulu, setelah itu baru dapat memasak. Lihat sekarang, ada minyak tanah, ada gas, tinggal membelinya saja, sungguh mudah bukan? Contoh lain, bayangkan jika kita harus menumbuk dedaunan untuk dijadikan sabun saat kita ingin membersihkan badan, akan sangat merepotkan. Untungnya kita tidak harus melakukan itu, di swalayan, di warung-warung tersedia sabun , dengan berbagai macamnya, untuk berbagai keperluan cuci mencuci. Wah, benar-benar mengasyikkan hidup di zaman serba mudah seperti ini.

Namun, dengan segala kemudahan yang kita rasakan di zaman ini, sadarkah Anda jika kita terbentuk menjadi manusia yang tidak mandiri. Karena semua mudah, maka kita memanfaatkan semua kemudahan tersebut. Tidak menjadi masalah jika lantas kita tidak menjadi tergantung dengan kemudahan yang di berikan zaman tersebut. Masalahnya sekarang , saya, Anda dan juga kebanyakan orang yang hidup di zaman ini terlena dengan kemudahan yang ditawarkan. Saya pribadi akan beralasan, jika ada yang mudah kenapa harus merepotkan diri? Wajar kan jika saya memanfaatkan kemudahan yang ada?

Nah itulah, kita terbiasa dicekoki hal-hal yang serba mudah, terbiasa menggantungkan pemenuhan kebutuhan kepada orang lain. Kebiasaan tersebut, kebiasaan kita membeli segala hal yang kita sebut mudah tersebutlah yang kemudian menjadikan kita tak berdaya jika suatu saat lingkungan yang konon selalu memberikan kemudahan itu tak lagi memberikan kemudahannya pada kita. Misalnya, kita terbiasa menggunakan minyak tanah atau bisa juga gas untuk memasak. Dua energi tersebut kita pilih karena lebih mudah dan praktis dibanding menggunakan kayu bakar. Namun sadarkah Anda, lama kelamaan kita menjadi manusia yang bergantung pada dua energi tadi. Hal tersebut dirasakan saat minyak tanah dan gas hilang dari peredaran, atau saat harga dua energi tersebut membumbung tinggi. Kita menjadi manusia yang selalu mengeluh, seperti kebakaran jenggot saja, tanpa adanya dua energi tersebut kita tidak berkutik, kita tidak bisa memasak makanan sendiri. Seandainya kita tidak terlena dengan kemudahan yang sudah biasa kita rasakan, seandainya kita tidak menjadi tergantung pada dua energi itu, kita bisa tetap memasak, meskipun dengan sedikit berepot diri mengumpulkan kayu bakar dan kembali ke tungku seperti zaman dahulu. Tapi saya yakin Anda merasa hal tersebut merepotkan saja, begitu bukan? Saya pun berpikir seperti itu. Dan pikiran-pikiran tidak mau berepot diri, tidak mau mencari alternatif lain, mengeluh, menyalahkan keadaan, menuntut orang lain untuk memperbaiki system, dan menuntut kemudahan yang sudah kita rasakan itu untuk kembali ada memenuhi kebutuhan kita adalah bukti bahwa kita terlalu dimanjakan dengan kemudahan, sehingga saat kemudahan itu hilang, kita tidak mau berusaha untuk sedikit inovatif dan berepot diri dalam memenuhi kebutuhan kita sendiri. Kita terus ingin disuapi, jika tidak, kita akan mengeluh, bersungut-sungut lalu menyalahkan orang lain. Kita menjadi manusia yang tidak mandiri bukan?

Begitulah, jika segala kemudahan yang ada tidak disikapi dengan bijak, kemudahan yang kita dapatkan dari lingkungan akan membentuk kita menjadi manusia yang tidak mandiri, manusia responsif, yang hanya berespon sesuai dengan stimulus yang diberikan, seperti robot saja. Kita terbentuk menjadi manusia yang hanya dapat melangsungkan kehidupannya jika selalu diberikan kemudahan dari lingkungan, tanpa itu kita akan mati, tak bisa melakukan apa-apa, tak bisa melakukan apapun. Lalu bagaimana? Apakah kita harus anti dengan berbagai kemudahan yang ada? Lalu kita berepot-repot diri lagi seperti zaman dahulu kala? Apakah kita harus anti teknologi agar kita bisa tetap menjadi manusia mandiri yang bebas dari perbudakan kemudahan zaman tersebut? Tidak seperti itu juga jawabannya. Anti terhadap teknologi dan anti terhadap kemudahan yang telah tercipta sama saja dengan mendzolimi diri sendiri. Seluruh waktu kita akan habis jika kita berkutat terus dengan kegiatan pemenuhan kebutuhan secara mandiri. Kita harus tetap memanfaatkan kemudahan yang ada, namun dengan cara yang bijak, dengan cara memilih kebutuhan-kebutuhan tertentu saja. Kebutuhan sehari-hari yang kira-kira bisa kita hasilkan sendiri maka kita kerjakan itu secara mandiri, sehingga kita tak sepenuhnya bergantung pada kemudahan dari lingkungan.

Saya pribadi akan memulai dari hal yang kecil terlebih dahulu. Saya rasa, kebutuhan keluarga saya akan bumbu masak dapat kami penuhi sendiri. Saya bisa menanam cabe, bawang, lengkuas, jahe dan teman-temannya di halaman rumah saya, saat perlu saya dapat mengambilnya dengan mudah, saat harga cabe mahal misalnya, saya tak perlu mengeluh karenanya, karena untuk pemenuhan akan bumbu dapur tersebut saya memenuhinya dengan cara mandiri. Saya tidak ingin menjadi budak kemudahan zaman, saya pun tak anti kemudahan, dengan memulai dari menaman cabe untuk keperluan sendiri, saya harap dapat sedikit membebaskan saya dari kebergantungan terhadap kemudahan zaman tadi, dan saya akan berusaha memperluas kemandirian saya, tak hanya sebatas hal kecil seperti menanam cabe dan temannya saja, itu hanyalah contoh paling kecil, doakan saja agar dapat berkembang ke hal lainnya. Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah akan tetap menjadi budak kemudahan zaman??

Permalink Leave a Comment