kemilau 10 hari terakhir
banyak sekali yang mengingatkan saya, ‘lan..lan..jangan lupa yang sepuluh hari harus dikejar yah, banyakin ibadahnya, jarang2 lho dapet bonus banyak banget dari 4W1″. sampai sms dari teman2 pun memenuhi inbox hape saya, dengan isi yang kira2 serupa, maksimalkan ramadhan, khususnya di sepuluh hari terakhir. inilah kemilau Lailatul Qodar.
alhamdulillah, saya senang sekali teman2 saya masih banyak yang mengingatkan. namun, yang saya kemudian pikirkan adalah banyak orang2 ayng saya kenal, bahkan saya sendiri termasuk, kemudian denagn kemilau lailatul qadar tersebut terbentuk menjadi makhluk pengejar 10 hari terakhir. maksudnya, saya baru semangat saat 10 hari terakhir ramadhan saja, yah setidaknya semangatnya lebih besar di 10 hari terakhir itu drpd 20 hari sebelumnya. padahal seharusnya dari hari pertama semangatnya kenceng juga, seharusnya dari awal maksimal juga. mungkin memang itulah karakter manusia, hanya mau bergerak ketika diiming2i oleh ‘hadiah’. lantas jika tak ada janji malam lailatul qadar itu, akankah 10 hari terakhir ramadhan kita tetap diisi dengan semangat membara untuk mencari ridha Allah?
saya sebenarnya khawatir dengan ajakan “maksimalkan ibadah di 10 hari terakhir ramadhan” ini. seperti halnya dulu2 seringkali orang2 diseru untuk memaksimalkan ibadah di bulan ramadhan, karena banyak bonuslah, pahala berlipatlah, lalu yang terjadi adalah orang2 hanya beribadah di bulan ramadhan saja dan tidak pada bulan lainnya, saya sedikit khawatir nasib serupa akan terjadi dengan istilah ‘10 hari ramadhan terakhir’ ini, jangan2 nanti orang2 di bulan ramadhan hanya beribadah di 10 yang akhir aja dan tidak pada 20 hari awalnya.
ada baiknya semangat itu dikobarkan di setiap hari ramadhan juga, anggap saja mungkin lailatul qadar muncul pada tanggal2 awal, dan kita juga kan ga tau turunnya kapan, memang c katanya biasanya turun pada 10 hari terakhir, toh 4W1 kan Maha Kuasa. Dia, yang pasti berkuasa menurunkan lailatul Qadar di awal2 ramadhan, jadi jangan yang 10 hari terakhir ajalah ibadahnya, semua hari ramadhan donk..
buntut2nya, mencari ridha 4W1 itu, beribadah dengan maksimal itu, jangan di 10 hari terakhir ajalah tapi di seluruh ramadhan, jangan di bulan ramadhan aja, tapi di seluruh bulan..
intinya, maksimalkan penghambaan kita setiap hari, setiap detik, setiap hembusan nafas kita..
tanpa makna
pagi hari yang sudah membuat saya berkeringat, tapi tak sia2lah bergerak cepat, dapet duduk di kreta, senaaaaang.
celingak-celinguk, aktivitas pertama yang biasa saya lakukan sesaat setelah duduk di kreta, kadang untuk mencari teman seperjuangan yang mungkin naik gerbong yang sama, kadang untuk mencari mamang koran, kadang untuk liat2 aja muka2 orang dikreta, ato bahkan hanya untuk senam pagi meregangkan otot leher, he.
ah ga ada yang seru, mending ngelamun aja, hmmh..lebih tepatnya monolog dalam hati sambil mikirin, hmmh..mikirin..ada deh, kasih tau ga y? yah ada lah yah..
ada mamang koran, lalu saya membelilah sebuah koran seharga seribuan, semakin tipis saja, mu lebaran kali ya, kena efek domino harga sembako naek, koran pun mengkerut. arggr!!!, pusing juga tadi baca koran, kapan ada berita baik ya? mulai pegel lagi, saya pun kembali celingak-celinguk, dengan tujuan seperti di atas sekaligus untuk melihat derajat kepenuhan kereta, hal ini penting dalam merancang strategi keluar dari kereta, salah strategi dan salah menentukan waktu beranjak dari tempat duduk biasanya berakhir dengan sakit badan pas keluar kreta, wajah lecek dan kumal, kaos kaki kotor terinjak, keringat banjir bercucuran, kerudung nyengsong, ato yang lebih parah kebawa ke UP, haha..rekor gw dua kali tuh selama 3 tahun lebih ’silaturahmi’ ke UP.
selanjutnya, saya melihat sesosok pria, sepertinya mahasiswa UI, mukanya familiar cuma saya tidak mengenalnya. Jauh, jauh di pojok gerbong saya, saya melihat pria tersebut sedang mengangkat dua tangannya kira2 setinggi dada dengan Al-Qur’an di kedua tangan tersebut, dia sedang membaca Al-Qur’an.
hmh, ramadhan, memang pemandangan seperti di atas sering saya temui. bulan lain juga lumayan c, namun bulan ini kuantitasnya bertambah. yah, ramadhan memang bulan ibadah, orang2 berlomba2, seperti pria tadi, dalam kesibukan kuliah yang padat, ya iyalah 10 hari terakhir biasanya orang berkumpul di masjid ini masih ada kuliah aja, alhasil waktu luang sedikit pun langsung dipakai untuk mengejar ketertinggalan target yang telah ditentukan. melihat pria tersebut sedikit sejuk lah hati saya, lalu saya pun kembali membaca koran.
beberapa lama kemudian, mata saya mulai pusing akibat baca koran, kembali saya melirik pada pria tadi, subhanallah masih lho dia baca Qur’annya, semakin kagum. hmmh..eits..eits..tunggu dulu..saya melihat ada sesuatu yang mengganjal. ya ampun, akhi.. itu di depannya ada ibu2 berdiri aja gitu bawa anak, amsa dibiarin berdiri dan Anda enak2an duduk padahal masih segar bugar dan gagah perkasa. mana akhlak yang ditulis dalam AQ yang Anda bacanya? koq ga dipraktekin? hhmmh, semakin membuktikan, dari sekian banyak orang, hanay sedikit orang yang membaca Al-Quran, dari sekian orang yang membaca Al-Qur’an , hanya sedikit orang yang paham maknanya, dan dari yang paham, hanya sedikit yang mempraktekannya.
Sayang banget yah, durasi membaca Al-Qur’annya tidak seiring dengan kualitas mempraktekan apa yang dibacanya. padahal perintahnya adalah berpegang teguhlah pada apa yang Allah tuliskan dalam AQ, koq jadi membaca tanpa pemaknaan gitu, huh..pantes aja teu tegak2 Islamna, model2nya kaya gini, teguran juga buat saya, hrs lebih menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin diri, namanya juga pedoman, dijadikan petunjuk untuk praktek dalam keseharian saya, bukan untuk disenandungkan tanpa pemaknaan, smangat ulan!!!!!!