bertanya pahlawan

February 26, 2009 at 8:38 am ("nyastra")

pahlawan, aku tak tau apa kau benar-benar pahlawan atau kau hanya cerita buatan dari sang pemenang saja

hei pahlawan, katakan padaku apa yang kau perjuangkan dimasa itu? seberapa deras mengalir darahmu ketika kau bertarung dengan musuh-musuh itu?

untuk siapa kau rela melepas nyawamu itu? apa benar kau rela mati untuk kebebasan ini? atau untuk yang lain? untuk apa? untuk siapa? apa kau tersanjung ketika kami menatap wajah2mu yang diabadikan dengan figura figura indah apa kau tersanjung ketika rumah reot dengan dinding kayu pun menyematkan gambarmu meski itu dengan paku karatan? atau kau merasa geram karena kami menyalartikan perjuanganmu? ayolah pahlawan, katakan semuanya padaku, apakah kau ini pahlawan seperti yang mereka ceritakan?

Permalink Leave a Comment

HOOOAAAAH…

January 29, 2009 at 6:58 am ("nyastra")

terdengar suara gemerisik hujan

merayuku..

meninabobokan..

membuatku terhanyut dalam kantuk yang hebat

menjadikan kesadaranku hilang perlahan

lalu membawaku ke langit penuh bintang

angin dingin pun turut menggoda

menyelinap dari sela-sela atap

dingin menelusuk hingga tulang

membuat tubuhku menggigil dan bergetar

hingga serta merta selimut pun ku peluk erat

seakan tak rela kumelepasnya

inginku diam

kaku

tak bergerak

meringkuk bersama selimutku

karena dia telah berkata akan menemaniku dikala hujan

dia juga berjanji akan lindungiku saat angin datang

tentulah aku percaya pada selimutku

karena dia..

merayuku..

dia meninabobokanku..

dia membuatku terhanyut dalam kantuk yang sangat hebat

menjadikan kesadaranku hilang dengan perlahan-lahan

lalu membawaku melayang terbang kesana ke langit penuh bintang

Hai orang yang berselimut

Bangunlah,lalu berilah peringatan

Dan Tuhanmu agungkanlah

Dan pakaianmu bersihkanlah

Dan perbuatan dosa tinggalkanlah

Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud ) memperoleh (balasan) yang lebih banyak

Dan kepada Tuhanmu bersabarlah (74:1-7)

karenaMu, aku pun segera bergerak

melawan kantuk

menanggalkan selimutku

karenaMu, aku pun segera beranjak

melawan angin dingin lalu menerobos hujan!!!!!

sembari berteriak “HEI SETAN-SETAN PERGI KALIAN!!!!!

Permalink Leave a Comment

dimana???

January 29, 2009 at 6:52 am ("nyastra")

Hai mujahid muda maju kehadapan

sibakkan penghalang satukan tujuan

kibarkan panji Islam dalam satu barisan

bersama berjuang kita junjung keadilan

jangan timbang ragu tetaplah melaju

hapus bayang semu dilubuk hatimu

bergerak ke depan bagai gelombang samudra

retakkan tirani runtuhkan angkara murka

majulah wahai mujahid muda

dalam satu cita tegak keadilan

singkirkan batas satukan kata

kebangkitan Islam telah datang (Izzatul Islam)

DIMANA KAUM MUSLIMIN????

DIMANA TENTARA MUSLIM???

DIMANA MUJAHID MUDA ITU??

APAKAH KALIAN SIBUK DENGAN KESOMBONGAN JAHILIYAH???

SIBUK MENGAGUNG-AGUNGKAN GOLONGAN SENDIRI???

MERASA DIRI LEBIH DARI YANG LAIN??

KALAU BEGITU KALIAN ANGKUH!!! KALIAN SOMBONG!!!!

DIMANA WAHAI KALIAN YANG MENGAKU MUSLIM??

APAKAH KALIAN TETAP SIBUK DENGAN MEMBANGGA-BANGGAKAN DIRI??

SEMENTARA DARAH TERUS MENGALIR DISANA!!!

SEMENTARA SEMAKIN BANYAK ROH BAYI TAK BERDOSA TERPISAH DARI JASADNYA!!!!

DIMANA KALIAN WAHAI MUJAHID MUDA???

DIMANA LAJU BAGAI GELOMBANG SAMUDRA ITU??

DIMANA BARISAN BERKIBARKAN PANJI ISLAM ITU??

DIMANA SATU CITA ITU??

DIMANA SATU KATA ITU??

DIMANA KALIAN WAHAI MUJAHID MUDA???

SAUDARA-SAUDARAMU BERTERIAK MEMINTA PERTOLONGAN..

“MANA SAUDARAKU KAUM MUSLIM??”

“MANA SAUDARAKU KAUM MUSLIMIN??”

DIMANA KALIAN WAHAI MUJAHID MUDA???

TAK TAKUTKAH ENGKAU KETIKA NANTI DIHARI KIAMAT DIPERTANYAKAN

“KEMANA KALIAN KETIKA SAUDARAMU MERINTIH MEMINTA PERTOLONGAN?”

“manaaaaa…saudaraku??”

“mana..saudaraku..kaum muslimin??”

“dimana saudaraku??”

“dimana saudaraku pengikut Muhammad SAW???”

“Ya Rosululloh, aku telah meminta tolong pada saudaraku, aku telah meminta tolong pada semua saudaraku, tapi tak ada yang datang, tak ada yang mendengar, mereka hanya sibuk dengan golongannya masing-masing”

- nyindir diri sendiri-

Permalink Leave a Comment

disini..

January 22, 2009 at 8:26 am ("nyastra")

tersampailah aku disini

setelah berhasil kuhancurkan harapan masa lalu

bahwa puncak segala daya adalah dirinya

yang kokoh berdiri dan meluluhkan

bahwa ujung segala upaya adalah dirimu

yang begitu bijaksana dan sangat menguatkan

bahwa seluruh impian adalah kamu

yang begitu hangat dan mampu memperlakukanku dengan sangat elegan

namun..

jika untuk mendapatkan ridhoNya harus ku korbankan harapan

jika untuk mendapatkan ridhoNya harus ku korbankan impian

dan jika untuk mendapatkan ridhoNya harus ku korbankan perasaan..

maka pasti kan kulakukan semuanya

dan sekarang..

tersampailah aku disini

dengan simpul kebahagiaan tertampak

disini..

terus berharap untuk mendapat ridhoNya

disini..

mengharap cinta yang kekal hanya dariNya, bukan darimu  ^^

disini..

tetap tangguh meski tanpamu

disini..

selalu tangguh meski tanpa kamu

dan..

inilah kemenanganku..

kuharap kau pun bisa begitu ^^

Permalink Leave a Comment

kertas putih

November 22, 2008 at 2:20 pm ("nyastra")

kertas putih itu kini mulai bercorak

terberi sentuhan warna

dan tergores oleh pena yang mengada

ah, kuingin menjadikannya kembali putih

maka kulebur kertas itu menjadi bubur

tercabik dan terendam dalam air

agar terurai jalinan warna

agar terluruh segala tinta

dan corak yang lalu adalah pelajaran

dan putih abadi adalah pengabdian

Permalink 1 Comment

Emansipasi Sesungguhnya…

February 24, 2008 at 12:46 pm ("nyastra")

Kartini, dengan Habis Gelap Terbitlah Terang-nya telah cukup berhasil menggaungkan emansipasi di era modern ini. Kini, tidak sedikit perempuan berlomba-lomba meneriakkan kesetaraannya pada jenis kelamin yang lain. Menuntut pendidikan setara, menuntut pekerjaan setara, menuntut hak yang sama dengan laki-laki, bersaing menjadi pemimpin, berebut kursi, berebut posisi. Bahkan terkadang tampak tidak lagi hanya menuntut hak tapi juga menuntut untuk melakukan kewajiban laki-laki. Yah, kini perempuan menuntut segala hal yang dilakukan laki-laki..

Hey lihat kami wahai manusia dengan jenis kelamin beda, lihat kami kini sama denganmu, lihat kami tidak lagi diinjak-injak olehmu, lihat saat ini kami bisa berada di atasmu, jauh, jauh di atasmu, dan keagungan pun didapat!!!

Lihat kami!! wahai manusia dengan jenis kelamin beda!! kini suara kami didengar, kini kami tidak lagi terkurung dalam sangkar, kini kami dapat melakukan apapun yang kau lakukan, kami tidak lagi diperintah tapi kini kami yang memerintah, memerintahmu!! Dan kemenangan pun didapat!!!

Yah seperti itulah perempuan masa kini. Merasa bangga, agung dan menang jika bisa berdiri sendiri, bisa menjadi pemimpin. Yang saya sesalkan, kini perempuan mulai lupa akan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu. Perempuan kini memilih menunda untuk menikah demi mengejar karir, ada juga perempuan yang memilih tidak menikah karena terlalu asik dengan posisi penting yang telah didapatnya, perempuan memilih tidak memiliki anak karena takut karir yang telah dirintisnya terganggu, bahkan kini perempuan memilih untuk menelantarkan anaknya hanya untuk menghadiri rapat bersama klien terhormat.

Wahai Ibu kita Kartini, lihatlah..apa yang kau usung telah membuahkan hasil yang luar biasa, keluarga yang tidak harmonis karena ketiadaan sentuhan lembut seorang perempuan didalamnya, suami-suami yang berselingkuh karena tidak pernah diberi perhatian oleh istrinya, anak-anak bermasalah karena kekurangan kasih sayang, anak-anak yang menderita akibat diterlantarkan oleh ibunya, lihatlah Ibu..emansipasimu begitu hebat..

Sampai suatu ketika, saya menggenggamnya, tulisanmu, Habis Gelap Terbitlah Terang. Penuh keengganan saya buka perlahan-lahan, penuh kebencian saya membaca karyamu halaman demi halaman, perlahan..per halaman. Lalu, saya menangis, air mata saya bercucuran, kebencian pun hilang..maafkan saya Ibu..

Saya terlalu gegabah untuk membencimu, saya terlalu gegabah untuk menyalahkan semuanya padamu, maafkan saya Ibu..

Ya, saya dapat mengerti betapa menderitanya Ibu, bak burung dalam sangkar yang kemudian dikeluarkan untuk belajar terbang, lalu setelah tau caranya terbang burung itu dimasukkan kembali ke dalam sangkarnya. Engkau terkurung setelah engkau bebas Ibu..ya saya dapat memahaminya..Ibu ingin terbang ke angkasa bukan? Ibu ingin menggapai awan, ingin bergerak bebas mengepakkan sayap, Ibu ingin merasakan terpaan angin yang mengena pada wajah Ibu saat Ibu terbang? Ibu ingin merasakan luncuran bebas di antara langit dan bumi tanpa ada halangan? Itukah yang Ibu rasakan? Yah, saya dapat juga merasakannya.

Saya pun mengerti, betapa Ibu sakit hati pada laki-laki karena dengan semena-menanya dapat membawa istri baru tanpa izin dari istri pertama, betapa bencinya Ibu pada laki-laki karena tidak mau menceraikan istri pertama meskipun istri pertama itu telah memohon dengan sujud, betapa dendamnya ibu pada laki-laki karena perempuan hanya dijadikan pemenuh nafsu birahi, dijajah, hina.. betapa geram Ibu, melihat perempuan kala itu hanya dapat diam, menunduk tidak melawan, diam, terpaku dan pasrah menerima ketidakadilan itu.. ya, saya memahaminya Ibu..

Lalu Ibu ingin merubah itu semua, Ibu ingin perempuan bisa pintar, mendapat pendidikan, dapat bersuara, tidak dilecehkan, dihargai. Ibu ingin perempuan itu cerdas, agar setiap Ibu dapat mengajari anaknya untuk berbudi pekerti, agar dapat mengajari anaknya kesopanan dan kesantunan, cerdas agar dapat mendidik anaknya merasa, berkata dan berpikir dengan baik, tidak seperti laki-laki di zaman itu, tidak seperti para penjajah di zaman itu.

Ibu ingin cerdas agar dapat mengurus anak, mengajarinya juga mendidiknya, menjadikan mereka anak yang cerdas pikir dan cerdas budi. Yah, Ibu menuntut emansipasi dengan tujuan mulia itu..

Ibu menuntut posisi terhormat, yakni sebagai penolong berharga bagi laki-laki, penolong laki-laki dalam misi memajukan peradaban, menolong laki-laki dengan cara menjadi cerdas dan membentuk generasi cerdas..itulah yang kau teriakan Ibu..

Ibu, apakah Ibu akan menangis seperti saya yang menangis ketika melihat perempuan masa kini yang justru melupakan posisi terhormat itu? Apakah Ibu akan meringis seperti saya yang meringis melihat perempuan yang kini menganggap status dan peran sebagai seorang ibu juga sebagai seorang istri sebagai sesuatu yang rendah?? Ibu, apa yang dapat saya lakukan??

Hmmh..ya Allah sadarkanlah perempuan-perempuan itu, saya tidak mampu berbuat apapun selain berusaha dan memohon doa padaMu untuk dapat mewujudkan mimpi Ibu, mimpi terhormat, yang telah Engkau gariskan untuk kami hambaMu perempuan..

Permalink Leave a Comment